Selasa, 14 Januari 2014

Kasus 21




Daripada Bantah, Jaksa-Polisi Lebih Baik Buktikan Rekayasa Kasus Tak Benar

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Dua institusi penegak hukum, kejaksaan dan kepolisian, membantah adanya praktik culas dalam penanganan kasus narkotika, meski Mahkamah Agung (MA) menilai ada rekayasa dalam beberapa penanganan narkotika.

"Ini kalau keduanya bersikukuh benar, jadi repot," kata pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar, saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (11/1/2014).

Baik kepolisian atau kejaksaan, kata Bambang, seharusnya dapat membuktikan kebenaran tersebut. Misal saja dengan menunjukan bukti-bukti materil yang dapat menegaskan yang mereka sangkakan terhadap beberapa terdakwa kasus narkotika yang berujung pembebasan, benar ada indikasi kuat keterlibatan.

"Perlu dicari betul, ada enggak yang bersangkutan terlibat dalam kasus narkotika. Dengan alat bukti menjadi dasar ada tidaknya rekayasa tersebut," tegas Bambang.

Lebih jauh Bambang mengatakan, perlu adanya pengkategorian penyelidikan under cover buy. Metoda tersebut digunakan untuk mencari jejak para pelaku kejahatan narkotika yang diwenangkan kepada para penyidik kejahatan narkotika.

"Harus ada kontrol di lapangan, under cover buy ini apakah untuk bandar atau pengguna, perlu ada perumusan," katanya.

Terkait dengan rencana Polri untuk menurunkan Propam guna mengecek adanya rekayasa dalam penanganan kasus narkotika, Bambang berharap Polri tidak hanya merekomendasikan oknum tersebut untuk meminta maaf kepada masyarakat yang dirugikan.

"Seandainya itu betul terjadi, kepada yang bersangkutan harus diberikan tindakan hukum karena salah dalam melakukan tugasnya," kata Bambang.

Dia khawatir kalau hanya sekedar permohonan maaf, ke depan bila terjadi kejadian serupa maka setiap oknum yang bersalah akan dengan mudahnya meminta maaf kepada korban rekayasa kasus.

Analisisi Berita Di Atas SBB :
                  Kasus Narkoba Sangat Marak Terjadi Dan Tidak Akan Pernah Hilang Selama Pemakai Maupun Penjual Masih Ada. Kasus Di Atas Menunjukan Bahwa Polsi Dan Jaksa Sangat Tidak Terpuji Dengan Merekayasa Kasus Yg Telah Ada,Jika Benar Adanya Kasus Rekasaya Ini Dan Hanya Menyangkut Kepentingan Pribadi,Negara Ini Mau Di Bawah Ke Mana Lagi Ranah Hukumnnya,Apalagi Pihak Yg Berwajib Saja Berperilaku Seperti Itu.
                   MK Yg Berperan Penting Dalam Hal Putusan Pengadilan,Agar Menjadikan Kasus Ini Sebagai Tolak Ukur,Supaya Kedepannya Masyarakat Yg Terlibat/Terjabak Bisa Terselamatkan Dari Putusan Mk Itu sendiri.Serta Bisa Melihat Benar Atau Tidaknya Tuntutan Jaksa/Polri Ataupun Masyarakat Dan Tidak Hanya Sebatas Wacana ,Dengan Catatan Tuntutan Itu Ada Bukti Materilnya.
                  Agar Kejadian Ini Tidak Terjadi Kembali MK Harus Membuat Keputusan Atau UU.Yg Berisi Tentang Segala Bentuk Keputusan Atau Tuntutan Harus Melalui MK,Dan MK Membentuk Tim Survei
Yg Menangani Kriminalitas Sebelum Masuk Ke MK Lalu Ke Pengadilan,Dengan Demikian  Polri/Jaksa Tidak Semenah Menah Dalam Hal Rekasa Sebuah Kasus.  
 


Kasus 20



Nakalnya! Bocah-bocah ini Mengganggu Pengendara di Jalan Panjang Jakbar

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Jakarta - Sejumlah kendaraan nekat menerjang banjir di Jalan Panjang, Kedoya, Jakarta Barat. Di perempatan depan Komplek Green Garden banjir masih setinggi lutut orang dewasa.

Pantauan di lokasi, Selasa (14/1/2014) semakin banyak anak-anak bermain air di lokasi banjir. Padahal cukup banyak kendaraan yang nekat melintas di jalan ini.

Bocah-bocah ini tiba-tiba menyipratkan air ke pengemudi mobil ataupun truk yang membuka jendela mereka. Motor yang melintas perlahan pun mereka dorong dari belakang kemudian menagih imbalan atas jasa tak diperlukan tersebut.

"Mereka bukan anak-anak sini (Kedoya), nggak tahu datang dari mana. Kalau anak-anak sini kami kenal orang tuanya, jadi kalau kami marahi nurut," ujar salah seorang warga Kedoya Utara, Susi (33).

Tak hanya itu bocah-bocah ini pun mendorong sepeda gerobak pedagang roti hingga jatuh. Beruntung air banjir tak sampai tembus ke roti-roti dagangannya.

"Nggak apa-apa, nggak basah. Tapi anehnya bukannya minta maaf anak-anak ini malah minta imbalan," ujar sang pedagang roti yang enggan menyebut nama.

Analisis Berita Di Atas SBB:
             Anak Kecil / Bocah Jaman Sekarang Emang Bebas Berkeliaran Apalagi Mereka Hidup Di Kota Besar Seperti Jakarta, Tidak Heran Banyak Orang- Orang Yg Sering Di Jahili Seperti Berita Di Atas.
Oleh Karena Itu Kita Sebagai Kakak Maupun Orang Tua Anak Itu Harus Extra Dalam Mendidik Mereka, Memberikan Pelajaran,Tata Krama, kasih Sayang  Dan Yg Menyangkut Kebaikan Mereka Sendiri.
           Agar Nantihnya Mereka Bisa Tumbuh Menjadi Anak Yg Sholeh Dan Taat Serta Menghargai Orang Lain  ,Kejadian Seperti Ini Agar Menjadi Perhatian Bagi Orang Tua Maupun KPA (Komisi Perlindungan Anak) . Biar Kedepannya Tidak Ada Lagi Anak Anak Yg Berkeliaran Jika Tidak Penting. Serta Masyarakat Yg Jika Melihat Masalah Seperti Ini Agar Menasihat Serta Membimbing Mereka .
          Supaya Usaha Kita Semua Maksimal, Anak Anak Seperti Mereka Agar Bisa Di Penuhi Kemauannya Yg Posistif Serta Memberikan Kasih Sayang  Cukup Bagi Mereka,Agar Mentalnya Sesuai Dengan Umur  Mereka Masing Masing, Dan Tidak Tumbuh Menjadi Anak Yg Berandalan, Karena Bisa Jadi Anak Anak Kaya Mereka Kurangnya Perhatian Dan Kasih Sayang Dari Orang Tua  Mereka Sendiri.

Senin, 13 Januari 2014

Kasus 19





Didatangi Jokowi, Warga Korban Banjir di Kembangan: Pak Minta Sembakonya!

Indah Mutiara Kami - detikNews
Jakarta - Di musim hujan ini, Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kembali sibuk blusukan ke lokasi banjir. Siang ini, Jokowi blusukan ke daerah Kembangan Utara, Jakarta Barat, yang masih kebanjiran.

Jokowi tiba di lokasi yang tepatnya di Jalan Kembangan Utara RT 02 RW 08, Kelurahan Kembangan Utara, Kecamtan Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (14/1/2014) pukul 12.05 WIB. Ratusan warga menyambut kedatangan Jokowi dengan antusias. Mereka mengerumuni Jokowi, berebut bersalaman dengan pria asal Solo ini.

Untuk masuk ke wilayah perkampungan yang mengalami banjir paling parah, Jokowi harus naik perahu karet. Di dalam kawasan ini, ketinggian air masih setinggi dada orang dewasa.

Kebanyakan warga mengungsi di lantai dua dan tiga SDN 01 Pagi Kembangan. Sedangkan lantai satu bangunan sekolah ini lumpuh karena terendam banjir.

Di lokasi pengungsian itu, Jokowi sempat meninjau dapur umum. Tak hanya itu, seperti biasa Jokowi juga membagi-bagikan buku tulis untuk anak-anak.



Selama hampir satu jam berada di lokasi tersebut, Jokowi pun bersiap menuju mobilnya. Saat itu, seorang ibu-ibu sempat berteriak kepada Jokowi, "Terima kasih Pak, KJP (Kartu Jakarta Pintar)-nya."

Jokowi berbalik dan kembali bertanya, "Sudah terima?"

"Sudah, Pak. Anak saya dua," jawab ibu tersebut sambil tersenyum.

Kemudian ada seorang ibu lainnya juga memanggil Jokowi. "Pak, minta sembakonya."

Jokowi menjawabnya pendek, "Iya tadi sudah diberikan


Analisis Berita Di Atas Sebagai Berikut :
              Jokowi Adalah Salah Satu Sosok Pemimpin Terbaik Yg Di Punya DKI Jakarta, Kedatangan Ke Wilayah Kembangan Di Sambut Antusias Oleh Warga,Kedatangan Jokowi Untuk Meninjau Lokasi Terjadinya Banjir,Untuk Menjdi Perhatian Jokowi Harus Bisa Lebih Extra Lagi Untuk Meningkatkan  Kinerjanya Seta Jajarannya Agar Kejadian Ini Bisa Menjdi Banjir Terakhir Di Ibukota.
             Agar Kinerja Maksimal Jokowi Harus Menambah Sarana Dan Prasarana Yg Telah Ada .Untuk Kedepannya Jokowi Harus Membuat Program Baru Serta Membuat Lembaga Penanganan Banjir Agar Beliau Tidak Terfokus Ke Masalah Banjir.
            Lembaga Penanganan Banjir Harus Di Buat Sesegera Mungkin. Agar Masalah Ini Bisa Terhandle Dengan Baik Serta Membuat Program Kerja Yg Baru Dan Menambah Fasilitas Yg Ada Contohnya,Penambahan Jam Kerja,Penambahan Pekerja,Penambahan Alat-Alat, Dan Yg Di Perlukan.
           Agar Maksimal Di Mana Jokowi Membuat Lembaga Penanganan Banjir,Jokowi Juga Harus Meminta Bantuan Jasa Kepada Perusahaan Swasta Yg Dapat Memenuhi Target Itu Sendiri, Semacam Kontraktor Ataupun Yg Sejenisnya.
           Dengan Demikian Kinerja Para Pekerja Bisa Sesuai Yg Di Harapkan Jokowi,Pemerintah,Masyarakat Maupun Warga Yg Sering Menjadi Korban Jika Musim Banjir Telah Tiba. Dan Mudah Mudahan Dengan Adanya Kerja Sama Pemerintah Dan Swasta Serta Pembuatan Lembaga Penanganan Banjir, Banjir Bisa Teratasi Serta Menjadi Kenangan Bagi Warga Ibu kota.
Kasus 18




Kebakaran Melanda Permukiman Padat di Muara Baru
Sukma Indah Permana - detikNews
(ilustrasi)
Jakarta - Kebakaran melanda permukiman padat di daerah Muara Baru, Jakarta Utara. Sebanyak 25 unit mobil pemadam kebakaran diturunkan ke lokasi.

"Laporan tadi diterima pukul 12.10 WIB. Sudah 25 unit damkar yang diturunkan ke lokasi," ujar salah petugas Damkar Sudin Jakarta Utara, Purus kepada detikcom, Selasa (14/1/2014).

Kebakaran ini terjadi tepatnya di RT 01 RW 07, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

Purus mengatakan belum ada laporan terkait berapa rumah yang terbakar. Petugas Damkar juga belum mengetahui penyebab dari kebakaran tersebut.

"Belum ada laporan tentang korban juga," imbuhnya.

Hingga saat ini, status api di lokasi itu masih merah (menyala). "Petugas masih bekerja," ujar Purus.


Analisiis Berita Di Atas SBB:
         Kebakaran Sering Terjadi Di Wilayah Padat Penduduk Semacam Muara Baru Dan Sekitarnya, Penyebab Terjadinya Bisa Jadi Korsleting Listrik,Di Mana Penduduk Yg Hidup Daerah Sana Rumah-Rumah Mereka Instalasi Listriknya Tidak Beraturan Dan Tidak Sesuai Standar PLN,Apalagi Zaman Sekarang Sedang Marak Pencurian Listrik.                                                                                                                                                   
         Oleh Krena Itu Masyarakat Serta Ketua RT/RW Maupun Pemerintah Harus Bekerja Sama Agar Meninjau Kembali Lingkungan Lingkungan Padat Penduduk,Serta Melakukan Perbaharuan Instalasi Listrik Jika Terdapat Masih Ada Rumah Penduduk Yg Instalasi Listriknya Tidak Beraturan,Dan Memberikan Sanksi Bagi Warga Yg Ketahuan/Kedapatan Mencuri LIstrik. 
        Agar Supaya Resiko Kebakaran Dapat Berkurang,Agar Menjadi Perhatian Pihak PLN Harus Bekerja Lebih Extra Serta Mengadakan Survei Di Seluruh Wilayah Supaya Tidak Ada Lagi Warga/masyarakat  Yg Masih Menggunakan Instalasi Abal Abal (Tidak Sesuai Standar ).Resiko Dari Intslasi Tidak Beraturan Sangat Fatal,Bisa Memicu Kebakaran Maupun Kerugian Bagi Kita Maupun Pemerintah .
        Jika Masih Ada Saja Yg Masyarakat Yg Nakal,Yg Tidak Mau Di Perbaharui /Mencuri Listrik Pihak PLN Maupun Pemerintah Agar Memintah Bantuan Yg Berwajib Agar Peristiwa Ini Dapat Teratasi Dengan Baik. Dengan Demikian Sedikit Demi Sedikit Wilayah_wilayah Padat Penduduk Akan Berkurang/Hilang Resiko Terjadinya Kebakaran.